3 Pola Pikir Yang Dibutuhkan Untuk Membangun Kekayaan

Robert Kiyosaki mengatakan dia memiliki dua ayah dalam hidupnya: Ayahnya sendiri dan ayah dari sahabatnya. Kiyosaki sangat mencintai keduanya, walaupun mereka sangat berbeda ketika berurusan dengan keuangan. Kiyosaki belajar apa yang tidak boleh dilakukan dari ayahnya sendiri dan apa yang harus dilakukan dari yang lain. Satu membantunya menghindari kemiskinan, yang lain membantunya menjadi kaya.

Saya tahu ini kontroversial dan sering dikritik, tetapi Rich Dad Poor Dad adalah buku keuangan personal yang menyampaikan pelajaran yang sangat berharga. Tidak heran jika buku ini telah terjual 32 juta copy. Berikut adalah tiga pelajaran untuk membantu Anda keluar dari kemiskinan dan membangun kekayaan:

  1. Ketakutan dan keserakahan membuat Anda terus berada dalam jebakan perlombaan tikus (rat race), tetapi keterbukaan akan pendidikan finansial akan membantu Anda keluar dari jebakan tersebut
Source: Financial Time
Source: Pinterest

Banyak dari kita takut untuk keluar dari rat race cycle karena kita berpikir orang lain akan mencap kita sebagai ” orang yang aneh.” Dengan kata lain, kita membiarkan dua emosi utama mendominasi keputusan kita: ketakutan dan keserakahan. Itulah sebabnya kita masih berpegang pada slogan lama yang sudah ketinggalan zaman, “Pergilah ke sekolah, cari pekerjaan, dan bermainlah dengan aman.” padahal kenyataannya, tidak ada pekerjaan yang aman lagi.

Ketika kita mendapat kenaikan gaji atau THR dari pekerjaan, pilihan bijak adalah menginvestasikan tambahan uang tersebut dalam sesuatu yang membangun kekayaan seperti saham atau obligasi. Mungkin kita dapat menemukan saham bagus dengan peluang return 60% setahun, tetapi kemungkinan ada risiko kita kehilangan 40% nya, karena risiko ketidakpastian di bursa saham. Namun, kemungkinan besar, ketakutan kita akan kehilangan uang tersebut, akan membuat kita sama sekali tidak memulai investasi.

Ketika pikiran kita dikendalikan oleh keserakahan , kita mungkin menghabiskan tambahan penghasilan kita untuk gaya hidup yang lebih baik, seperti membeli mobil baru, ambil cicilan konsumtif, atau shopping di mall, sehingga tidak menyisakan sama sekali uang dari tambahan penghasilan tersebut untuk diinvestasikan

Ini menunjukkan betapa pentingnya mendidik diri sendiri untuk melek finansial. Sayangnya, di Indonesia kita tidak menerima pendidikan keuangan di sekolah atau perguruan tinggi, sehingga literasi keuangan masih sangat rendah. Lihatlah di sekitar kita, dan kita akan menemui masih banyak orang yang tidak tahu secara finansial dalam hidup mereka. Berdasarkan survei baru-baru ini yang dilakukan oleh HSBC bertajuk Future of Retirement terhadap 1.050 responden yang terdiri dari pekerja aktif serta pensiunan, sebanyak 68% dari responden menginginkan masa pensiun yang nyaman dan tenang. Namun sayangnya, keinginan tersebut tak dibarengi dengan persiapan perencanaan keuangan di masa pensiun. Hasil survei menunjukkan, baru 30% responden mulai menabung untuk mempersiapkan masa pensiun (sumber: Kompas.com) .

Satu-satunya cara bagi kita untuk keluar dari jebakan rat race cycle ini, adalah dengan memulai menetapkan tujuan yang keuangan yang realistis, bahkan kalau perlu menunda pembelian mobil baru.

2. Gunakan pola pikir “bekerja untuk belajar”, bukan “bekerja untuk menghasilkan uang,” dan berpikir dengan cerdas dalam mengelola keuangan

Source: Amazon

Ambil pekerjaan di bidang yang Anda belum pernah mengetahuinya sebelumnya, seperti marketing, customer service, atau komunikasi, untuk mengembangkan keterampilan baru bagi Anda. Mungkin saja keterampilan tersebut akan berguna bagi Anda di kemudian hari.

Sisihkan 5% dari penghasilan Anda setiap bulan untuk membeli buku dan kursus dan menghadiri seminar tentang keuangan personal untuk mulai membangun IQ finansial Anda.

Langkah pertama membangun kekayaan terletak pada pola pikir mengelola risiko alih-alih menghindarinya. Mempelajari investasi akan mengajarkan Anda bahwa lebih baik tidak bermain aman, karena itu berarti bahwa kemungkinan Anda akan benar-benar kehilangan potensi imbal hasil (return) besar.

Jangan mulai dengan nomimal yang besar. Sisihkan Rp. 1.00.000 atau bahkan Rp. 100.000, dan investasikan dalam saham, obligasi, atau reksadana. Sesuaikan dengan profil risiko Anda, pada jumlah nominal berapa Anda tidak akan khawatir jika harus kehilangan uang tersebut.

Segera setelah Anda memulai perjalanan menuju kekayaan, Anda akan menyadari bahwa itu merupakan proses yang sangat panjang. Itulah mengapa sangat penting untuk tetap memotivasi diri. Kiyosaki menyarankan untuk membuat daftar “Saya ingin” dan “Saya tidak mau”, isi dengan item-item seperti: “Saya ingin pensiun pada usia 50 tahun.” atau “Saya tidak ingin berakhir seperti tetangga saya yang bangkrut.”

Anda juga perlu memiliki kebiasaan membayar terlebih dulu semua kewajiban Anda setiap bulan (contoh: tagihan kartu kredit, pinjaman ke finctech P2P Lending , dan termasuk juga utang ke teman). Ambil bagian dari gaji Anda yang ingin Anda belanjakan untuk saham atau pendidikan finansial Anda, investasikan, dan bayar tagihan Anda sesudahnya. Ini akan menciptakan tekanan untuk menjadi kreatif dalam menghasilkan uang.

3. Gunakan uang Anda untuk mendapatkan aset bukan meningkatkan kewajiban

Aset bisa berupa saham, obligasi, real estat yang Anda sewakan, royalti, dan apa pun itu yang menghasilkan uang dan dapat meningkatkan nilai uang Anda seiring berjalannya waktu.

Kewajiban dapat berupa mobil atau peralatan elektronik dengan biaya perawatan dan pembayaran cicilan bulanan, pemilikan rumah dengan sistem KPR, dan tentu saja, utang itu sendiri. Apa pun yang mengeluarkan uang dari kantong Anda setiap bulan adalah kewajiban. Bayangkan hasil dari pekerjaan Anda setiap bulan tidak menyisakan apapun karena habis untuk membayar cicilan konsumtif.

Selain berinvestasi, Anda juga perlu membangun sebuah bisnis. Dari hasil bisnis tersebut, Anda investasikan kembali untuk memperoleh aset-aset lain, sehingga imbal hasil (return) dari aset-aset yang Anda bangun, dapat membiayai kebutuhan pokok dan bahkan, kebutuhan tersier Anda.

Yang paling penting adalah Anda mulai hari ini. Diri Anda adalah aset terbesar bagi Anda sendiri, jadi hal pertama yang harus Anda lakukan adalah dengan berinvestasi ke diri Anda sendiri, mulai mengikuti seminar keuangan, baca buku finansial, membaca blog keuangan, atau menyaksikan tayangan dan podcast yang akan membantu Anda untuk lebih terbuka terhadap pengelolaan keuangan.

Kesimpulan:

Buku Rich Dad Poor Dad bercerita tentang seorang anak lelaki dengan dua ayah, satu kaya, satu miskin, untuk membantu Anda membangun kehidupan yang kaya dan bebas secara financial.

Berikut pelajaran dari buku tersebut yang menurut saya sangat penting:

  1. Hidup dalam rat race cycle bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi Anda dapat menghindarinya.
  2. Di awal karir Anda, belajar banyak hal lebih penting daripada menghasilkan banyak uang.
  3. Aset adalah aliran pendapatan, bukan barang, dan Anda harus belajar cara mendapatkan lebih banyak dari aset-aset produktif Anda untuk menjadi bebas secara finansial.

“Winners are not afraid of losing. But losers are. Failure is part of the process of success. People who avoid failure also avoid success.”

— Robert T. Kiyosaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s