Dimana uang Anda ditempatkan?

Sesungguhnya, memulai saja sudah merupakan hal yang besar, butuh kedisiplinan besar menyimpan setiap uang yang kita peroleh. Bagaimanapun, seberapa pun besar uang yang Anda dapatkan atau terima dari orang lain, akan jauh lebih mudah dan lebih cepat mencari sesuatu untuk membelanjakan uang itu.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Tantangan Anda adalah menempatkan uang itu, katakan Anda punya uang Rp. 10.000.000- taruhlah uang itu di suatu tempat dimana uang itu bisa tumbuh menjadi uang yang lebih banyak. Kedengaran cukup sederhana. Tentu, Anda bisa menempatkan uang itu di bawah kasur atau dalam celengan, tetapi ketika sudah saatnya bagi Anda untuk mengambilnya, meski beberapa tahun kemudian, yang Anda temui masih jumlah uang yang sama, Rp. 10.000.000, yang Anda tempatkan disana. Uang itu tidak akan tumbuh sama sekali. Faktanya, jika harga-harga barang yang akan Anda beli dengan uang itu naik selama masa uang itu terpendam di bawah kasur (dan karena itu Rp. 10.000.000 milik Anda punya daya beli lebih kecil dari sebelumnya), pada dasarnya uang Anda bernilai lebih rendah dari nilai saat Anda menyimpannya.

Rencana B pasti lebih baik. Dan memang, bawa saja uang Anda yang Rp. 10.000.000 itu ke bank. Bank tidak hanya akan bersedia menampung uang Anda, mereka akan membayar Anda atas hak istimewa itu. Setiap tahun, Anda akan mengumpulkan bunga dari bank itu, dan dalam kebanyakan kasus, semakin lama Anda bersedia mengizinkan mereka memegang uang Anda, semakin tinggi tingkat bunga yang akan Anda dapatkan. Jika Anda setuju menyimpan uang Rp. 10.000.000 Anda pada bank tersebut selama lima tahun, Anda mungkin akan mengumpulkan kira-kira 5 persen pembayaran bunga per tahun (dalam hal ini, kita asumsikan produk perbankan tersebut berupa deposito). Jadi, pada tahun pertama Anda mengumpulkan Rp. 500.000 bunga pada simpanan asli Anda sebesar Rp. 1.000.000 dan kini Anda akan memiliki Rp. 10.500.000 di bank pada awal tahun kedua. Pada tahun kedua, Anda mengumpulkan lima persen lagi bunga dari nilai baru sebesar Rp. 10.500.000 atau Rp. 525.000 pembayaran bunga dan seterusnya sampai tahun kelima. Setelah lima tahun, uang Rp. 10.000.000 Anda akan tumbuh menjadi Rp. 13.400.957. Lumayan dan tentu memang jauh lebih baik daripada hanya menyimpan dibawah kasur.

Kemudian kita beralih ke rencana C. Rencana ini dikenal sebagai “Siapa yang membutuhkan bank?” Ada cara mudah yaitu dengan melewati begitu saja bank dan Anda meminjamkan sendiri uang Anda ke bisnis atau kelompok individu. Sering suatu perusahaan meminjam uang secara langsung dengan menjual surat utang. Biasanya perusahaan yang cukup besar menerbitkan surat utang sepanjang waktu. Jika Anda membeli surat utang dengan uang Rp. 10.000.000 Anda tersebut dari sebuah perusahaan besar, misalnya perusahaan itu mungkin bersedia membayar Anda 8 persen (belum dipotong pajak) setiap tahun dan membayarkan uang Anda semula Rp. 10.000.000 setelah 5 tahun. Jelas itu mengalahkan suku bunga deposito yang rata-rata 5 persen (belum dipotong pajak) yang diberikan bank.

Tetapi, ada sedikit persoalan: Jika Anda membeli surat utang dari perusahaan dan sesuatu yang buruk terjadi pada bisnisnya, Anda mungkin tidak akan pernah mendapatkan bunga Anda atau uang Anda mungkin tidak bisa kembali. Itulah mengapa perusahaan-perusahaan yang lebih berisiko biasanya harus membayar tingkat bunga yang lebih tinggi ketimbang perusahaan yang lebih solid dan mapan. Itulah sebabnya mengapa surat utang sebuah perusahaan harus membayar lebih banyak dari bank.

Jika Anda tidak nyaman mengambil risiko apa pun, bahkan kehilangan Rp. 10.000.000 milik Anda, pemerintah Republik Indonesia menjual surat utang juga. Sementara tidak ada sesuatu yang sepenuhnya tanpa risiko di dunia ini, meminjamkan uang ke pemerintah Republik Indonesia adalah yang paling mendekati apa yang Anda harapkan tersebut. Jika Anda bersedia meminjami pemerintah Indonesia selama 10 tahun, kemungkinan Anda akan mendapat imbal hasil sekitar 7.96% per tahun (berdasarkan data lelang SUN Indonesia Seri FR0082 bertenor 10 tahun – 14 April 2020).

Jadi, jika tingkat bunga tahunan pada surat utang pemerintah selama 10 tahun adalah 7.96% , itu pada dasarnya berarti bahwa orang yang bersedia meminjamkan uang mereka selama 10 tahun, tetapi tidak mau mengambil risiko apa pun kehilangan investasi awal mereka atau tidak menerima tingkat bunga yang dijanjikan, setidaknya mereka masih bisa berharap menerima 7.96% per tahun dari uang yang mereka pinjamkan ke pemerintah. Dengan kata lain, untuk orang yang bersedia menyimpan uang mereka selama 10 tahun, tingkat pengembalian (return) “tanpa risikonya” adalah sebesar 7.96% per tahun.

Penting untuk dimengerti apa artinya itu. Itu berarti, jika seseorang meminta Anda meminjami uang atau menanam investasi pada mereka dalam jangka panjang, mereka sebaiknya bisa membayar Anda lebih dari 7.96% per tahun. Mengapa? Karena Anda bisa mendapatkan 7.96% setahun tanpa mengambil risiko apapun. Yang perlu Anda lakukan cuma meminjamkan uang itu kepada pemerintah Republik Indonesia dan mereka akan menjamin bahwa Anda menerima 7.96% setiap tahun (Surat Utang Negara dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2002).

Referensi: The Little Book That Beats The Market – Joel Greenblatt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s