Sebuah Cerita Tentang Mengelola Uang

Membuat keputusan hari ini untuk jangka waktu yang sangat lama

Artikel asli ditulis oleh Ben Le Fort dan publikasikan di Benlefort.com

Photo by Anna Shvets on Pexels.com

Istilah first-generation wealth builder mengacu pada seseorang yang tidak memiliki harta warisan sama sekali dan membangun kekayaan, mulai dari nol. Di artikel ini, saya akan menbambahkan definisi first-generation wealth builder sebagai seseorang yang membangun kekayaan untuk menghidupi diri sendiri, keluarga mereka, dan generasi masa depan keluarga mereka. Kurang lebih mirip dengan istilah “sandwich generation”.

Pada 2013, saya menyelesaikan kuliah dengan utang $ 50.000 (sekitar Rp. 740 juta dengan kurs Rp. 14.806) dan saldo tabungan $ 600 (sekitar Rp. 8,9 juta dengan kurs Rp. 14.806) di bank (di Amerika, program student loan cukup popluer) , dan inilah misi saya untuk memulai perjalanan sebagai first-generation wealth builder. Setiap keputusan keuangan yang saya buat sejak saat itu memiliki tujuan yang jelas untuk mencapai dua tujuan:

  1. Memperbaiki kondisi keuangan pribadi saya.
  2. Memperbaiki kondisi keuangan keluarga saya, baik anggota keluarga saya saat ini dan generasi berikutnya di keluarga saya.

Mengingat hal itu, inilah cara saya mengelola uang sebagai first-generation wealth builder.

Berinvestasi

Photo by Lukas on Pexels.com

Salah satu faktor terpenting yang perlu dipertimbangkan ketika membangun portofolio investasi adalah bagaimana Anda men-toleransi risiko dan jangka waktu Anda dalam berinvestasi.

Semakin tinggi Anda dapat men-toleransi risiko dan semakin lama waktu investasi yang Anda tetapkan, Anda dapat mempertimbangkan untuk mengelola portofolio investasi Anda di instrumen investasi yang cukup berisiko, seperti saham.

Saya tahu bahwa saya memiliki toleransi risiko yang sangat tinggi. Saya telah mengalami penurunan nilai portofolio saya lebih dari 30% dalam beberapa minggu. Ketika itu terjadi, saya tidak pernah berpikir untuk menjual saham saya ketika pasar sedang turun. Saya justru bertindak sebaliknya. Saya berusaha mencari cara untuk mendapatkan lebih banyak uang di pasar saham.

Menjadi first-generation wealth builder dengan tujuan meninggalkan warisan untuk anak-cucu saya, berarti saya memiliki waktu yang sangat lama agar portofolio investasi saya berkembang. Tujuan saya adalah memaksimalkan kekayaan untuk generasi berikutnya selama 50-100 tahun ke depan. Itu berarti saya tidak peduli dengan apa yang terjadi di pasar saham setiap harinya.

Apa yang terjadi hari ini, minggu ini atau bulan ini di pasar saham tidak akan berdampak pada nilai akhir investasi saya dalam jangka panjang. Pasar saham selalu mengalami volatilitas jangka pendek yang ekstim, tetapi dalam jangka panjang, secara konsisten menghasilkan pengembalian yang kuat (tentunya harus didukung oleh fundamental perusahaan yang baik).

Pada abad ke-21, S&P 500 (sebuah indeks yang terdiri dari saham 500 perusahaan dengan modal besar, kebanyakan berasal dari Amerika Serikat) naik hampir 110%. Selama 20 tahun pertama abad ini, telah terjadi volatilitas yang menurut saya cukup fair.

  • Dot-com bubble di awal tahun 2000
  • Serangan teroris 11 September tahun 2001
  • Krisis keuangan tahun 2007-2009.
  • Perang dagang AS-Cina yang dimulai pada 2018.
  • Pandemi Corona (COVID-19) pada tahun 2020.

Terlepas dari semua peristiwa ini, satu dolar yang diinvestasikan di pasar saham 20 tahun yang lalu, nilainya saat ini akan lebih dari dua kali lipat.

Tidak hanya berfokus pada generasi berikutnya, perlu adanya keseimbangan antara mendanai pensiun Anda sendiri dan meninggalkan warisan. Anda harus selalu siap dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi terhadap keuangan Anda sendiri.

Masalah perencanaan pensiun terbesar yang harus diselesaikan oleh first-generation wealth builder adalah mendanai pensiun mereka sendiri dengan baik dan meninggalkan warisan untuk generasi berikutnya.

Asuransi

Photo by Adrianna Calvo on Pexels.com

Berinvestasi bukan satu-satunya cara untuk meninggalkan warisan. Asuransi jiwa dapat menjadi bagian yang cukup banyak membantu first-generation wealth builder menyeimbangkan kebutuhan pensiun mereka sendiri sambil memastikan anak dan cucu mereka tercukupi secara finansial.

Ada dua jenis cakupan asuransi jiwa:

  1. Term life insurance, dan
  2. Permanent/whole life insurance.

Term life insurance akan melindungi Anda selama periode yang telah ditentukan. Setelah jangka waktu habis, Anda dapat mengajukan kembali untuk jangka waktu berikutnya atau tidak memperpanjang polisnya kembali.

  • Permanent/whole life insurance akan meng-cover seluruh hidup Anda
  • Term life insurance jauh lebih murah, dan bagi kebanyakan orang, ini lebih masuk akal

Inilah cara saya berpikir tentang asuransi jiwa sebagai first-generation wealth builder. Ketika saya masih muda dan sehat, saya lebih memilih Term life insurance. Saya melakukan ini karena dua alasan:

  1. Term life insurance cenderung lebih murah bagi orang muda yang sehat.
  2. Saat saya masih muda, saya memiliki aset yang tidak begitu banyak dibandingkan ketika saya tua nanti. Karena itu, sekarang saya memerlukan lebih banyak perlindungan asuransi jiwa untuk memastikan keluarga saya memiliki perlindungan secara finansial jika ada sesuatu yang terjadi pada diri saya. Seiring bertambahnya usia dan kekayaan saya tumbuh, saya tidak akan membutuhkan banyak asuransi.

Begitu saya telah membangun kekayaan yang cukup, meminimalkan kewajiban pajak akan menjadi salah satu prioritas utama dalam mengatur keuangan saya. Karena pembayaran klaim asuransi jiwa pada umumnya tidak dikenakan pajak (hal ini berlaku juga di Indonesia hingga artikel ini ditulis), ini dapat berperan penting dalam mentransfer kekayaan kepada anak dan cucu saya dengan cara efisiensi pajak.

Utang

Photo by Pixabay on Pexels.com

Banyak orang menganggap bahwa utang itu “buruk” dan harus dihindari dengan cara apa pun. Itu pandangan yang terlalu sederhana dan kuno, terutama jika Anda adalah first-generation wealth builder.

Mengambil pinjaman berarti Anda harus meminjam uang untuk membayar sesuatu karena Anda tidak memiliki cukup uang tunai. Apakah utang baik atau buruk tergantung pada apa yang Anda biayai dan persyaratan pinjaman Anda.

Utang konsumtif selalu “buruk” dan harus dihindari dengan cara apa pun. Utang konsumtif termasuk kartu kredit, payday loan, dan pinjaman mobil. Jika Anda menggunakan utang untuk membeli “barang-barang konsumtif”, sama saja Anda membunuh diri sendiri.

Jika Anda menggunakan utang untuk mendorong investasi, utang itu berpotensi menumbuhkan kekayaan Anda. Ketika saya berbicara tentang menggunakan utang untuk berinvestasi, itu bisa memiliki banyak arti berbeda, seperti:

  • Mengambil pinjaman untuk biaya pendidikan
  • Membeli rumah tinggal
  • Berinvestasi pada properti yang disewakan
  • Memulai bisnis

Saya telah mengambil utang $ 50,000 (sekitar Rp. 740 juta dengan kurs Rp. 14.806) untuk menyelesaikan gelar Master saya di bidang ekonomi. Itu memungkinkan saya untuk melipatgandakan penghasilan saya dan ini sudah terbayar. Mengambil program pascasarjana adalah salah satu keputusan finansial terbesar dalam hidup saya.

Sebagai first-generation wealth builder, layak untuk berinvestasi ke diri sendiri terlebih dahulu dengan mengambil student loan. Sebagai second-generation wealth builder, putra saya tidak perlu khawatir tentang student loan karena saya dan istri sepenuhnya membiayai kuliahnya.

Mengambil pinjaman untuk berinvestasi tidak menjamin hal-hal tersebut akan berhasil. Jika saya mengambil student loan $ 50,000 dan saya gagal di sekolah, itu akan menjadi penggunaan utang yang buruk.

Utang hanyalah alat keuangan. Tentunya ini meningkatkan risiko, tetapi jika digunakan dengan bijak, itu dapat bertindak sebagai leverage untuk meningkatkan kekayaan Anda. Orang-orang yang berasal dari keluarga kaya, tentu tidak perlu mengambil risiko itu karena mereka memiliki uang keluarga yang dapat mereka gunakan kembali.

Utang adalah tali pengikat yang harus dilakukan oleh banyak first-generation wealth builder. Mereka mungkin tidak punya pilihan selain menggunakan utang untuk memicu investasi dalam diri mereka sendiri, bisnis, atau memperoleh aset. Namun, mereka dituntut untuk berbuat salah seminimal mungkin agar tidak membahayakan kondisi keuangan Anda.

Bekerja

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Jika Anda seorang first-generation wealth builder, Anda harus bekerja lebih keras dan lebih pintar daripada kebanyakan orang. Saya selalu memiliki pekerjaan sampingan sejak awal usia 20-an. Bahkan ketika saya telah mengalami kemajuan dalam karir saya dan mendapatkan lebih banyak uang, saya tetap memiliki kesibukan menulis dan membuat kursus online.

Ini jelas memungkinkan saya untuk menghasilkan lebih banyak uang daripada jika saya hanya mengandalkan pekerjaan tetap saya. Ini juga memungkinkan saya untuk mendiversifikasi penghasilan saya. Kita semua setuju bahwa sangat penting untuk mendiversifikasi investasi kita. Penghasilan kita adalah aset paling berharga yang pernah kita miliki. Jadi, menurut saya, penting juga untuk mendiversifikasi penghasilan kita.

Saya bisa memanfaatkan kemampuan berbicara saya untuk menghasilkan cukup uang sehingga bisa mencukupi kebutuhan hidup saya. Jika saya kehilangan pekerjaan utama, saya masih bisa menyediakan makanan di atas meja untuk keluarga saya. Saat ini, saya mengambil setiap sen dari kemampuan berbicara saya dan menginvestasikannya. Seiring kemampuan berbicara saya tumbuh, demikian juga dengan kekayaan saya.

Berinvestasi dalam keluarga saya

Photo by Gustavo Fring on Pexels.com

Setelah berinvestasi pada diri sendiri, tidak ada investasi yang lebih berharga daripada keluarga. Saya tidak bermaksud memberikan uang kepada keluarga, saya berbicara tentang berinvestasi dalam keluarga Anda.

Beberapa tahun yang lalu, orang tua saya terpaksa meninggalkan apartemen mahal yang mereka tinggali. Jadi, Trish dan saya membeli rumah kedua di kota asal saya untuk ditinggali oleh orang tua saya. Hal ini merupakan bentuk investasi pada keluarga saya

  • Memberi orang tua saya tempat tinggal yang nyaman
  • Rumah ini merupakan tempat yang nyaman untuk menghabiskan musim panas bersama keluarga besar saya
  • Rumah ini terus meningkat nilainya, membantu saya dan Trish menumbuhkan kekayaan kami.

Kami juga menyiapkan dana kuliah untuk putra kami pada hari pertama kami membawanya pulang dari rumah sakit. Ini akan memungkinkan dia untuk mendapatkan pendidikan tinggi tanpa harus berutang.

Mengajari anak saya cara mengelola dan menghargai uang

Photo by August de Richelieu on Pexels.com

Inilah tantangan terbesar yang dihadapi first-generation wealth builder, memastikan generasi kedua tidak mengacaukannya.

Tidak akan ada kegagalan yang lebih besar daripada menghabiskan hidup saya untuk membangun kekayaan, namun justu dihancurkan oleh generasi kedua saya, jika saya tidak pernah mengajarkan anak saya pelajaran dan prinsip yang saya gunakan untuk memberikan kekayaan itu kepadanya. Jelas, anak saya tidak akan belajar mengelola uang jika bukan saya yang mengajarinya, jadi saya mengajarinya menghargai uang dan bagaimana mengelolanya untuk menumbuhkan kekayaan keluarga.

Mengajari dia cara mengelola uang harusnya mudah saja karena aspek teknis pengelolaan uang relatif sederhana. Tantangannya adalah memastikan dia menghargai uang. Saya menghargai uang dan kekuatan yang dimilikinya atas kehidupan kami karena kami menyadari bahwa kami bukan berasal dari keluarga yang berada.

Bagaimana saya mengajar anak saya untuk menghargai uang tanpa harus mengkhawatirkannya ketika ia tumbuh dewasa kelak? Saya belum mengetahuinya. Untungnya, anak saya baru berusia tiga bulan, jadi saya punya banyak waktu untuk memikirkan masalah itu.

Tujuan ambisius saya untuk membangun kekayaan lintas generasi

Photo by Pixabay on Pexels.com

Dalam artikel ini, saya telah membahas bagaimana setiap keputusan keuangan yang saya buat sebagai first-generation wealth builder sekaligus bertujuan untuk memperbaiki situasi keuangan pribadi saya dan situasi keuangan masa depan keluarga saya.

Jika tujuan itu tampak tidak jelas, maka izinkan saya untuk berbagi tujuan finansial secara spesifik dan ambisi saya, yaitu membangun kekayaan yang cukup, sebelum saya mati, dan memastikan bahwa keluarga saya dapat hidup dari setengah bunga dan dividen yang dihasilkan dari kekayaan itu dan menyumbangkan separuh lainnya untuk amal.

Saya menyadari bahwa itu adalah tujuan finansial yang ambisius, dan saya mungkin tidak bisa sampai kesana. Namun, jika saya telah melakukan pekerjaan saya sebagai orang tua dan first-generation wealth builder, maka putra saya yang akan melanjutkannya.

disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan informasi saja. Jangan dianggap sebagai saran finansial untuk Anda, karena tiap orang memiliki preferensi risiko masing-masing. Tidak semua informasi akurat, oleh karena itu konsultasikan dengan financial adviser Anda sebelum membuat keputusan keuangan yang signifikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s