Kemana Saja Uang Saya Pergi?

Photo by Oleg Magni on Pexels.com

Pernah ngerasa gak, ini baru awal bulan tapi kok duit di tabungan udah gak bersisa? Positif thinking-nya, kali aja udah di autodebet untuk beli reksadana atau bayar premi asuransi. Itupun kalau digunakan untuk tujuan investasi dan proteksi, harusnya udah kamu perhitungkan dong sebelumnya dan memastikan kalau duitmu cukup hingga gajian berikutnya. Lantas kemana perginya?

Pernah gak kepikiran nyari’in duit yang raib begitu aja? Remot TV hilang aja, kamu cari’in. Masak duitmu nggak?

Coba deh cari tau, selama sebulan terakhir udah ngopi-ngopi cantik di coffeshop berapa kali? Langganan lagu di Spotify habis berapa? Langganan film di Netflix habis berapa? Buat beli rokok udah habis berapa? Pengeluaran-pengeluaran kecil yang kayak gini ini kadang yang gak kerasa.

David Bach di bukunya mengenalkan konsep The Latte Factor. Apa itu? The Latte Factor merupakan gagasan bahwa pembelian-pembelian yang tampaknya nominalnya kecil, namun dilakukan secara rutin akan berdampak besar dalam arus kas keuanganmu di kemudian hari. Bach berpendapat dengan memotong pembelian kecil ini dan meng-aktifkan fitur autodebet untuk menabung dan berinvestasi, kamu dapat menghasilkan lebih banyak kekayaan selama masa hidupmu. Gagasan David Bach ini sangat bertentangan dengan gaya hidup YOLO (You Only Live Once). Makanya gagasan ini kurang cocok dikenalkan ke provider-provider kartu kredit, karena kecenderungan mereka mengajak kita untuk lebih konsumtif.

Di satu sisi, memang benar gagasan The Latte Factor ini akan membuat kita hidup lebih hemat karena mengalihkan sebagian budget kita untuk ngopi-ngopi cantik ke tabungan dan investasi. Tapi disisi lain, mungkin kamu berpikir “Masak gak boleh sih aku menyenangkan diriku sendiri, memberi reward atas pencapaian-pencapaian yang kulakukan selama ini?” atau mungkin mikir gini “duit kan gak dibawa mati, jadi selagi gue masih hidup, ya gue nikmatin aja dong”.

Kalau rencana keuanganmu membuat kamu sengsara, kemungkinan besar kamu tidak akan mematuhinya, ujung-ujungnya malah gak jadi nabung dan investasi deh. Oke, mungkin lebih baik gak memotong semua budget ngopi-ngopi cantikmu, tapi menguranginya dan rasakan dampaknya ke saldo tabungan dan investasimu. Maka, dengan cara itu akan membantu memudahkanmu untuk mencapai tujuan keuanganmu.

Mulai sekarang cobalah membuat list pembelian-pembelian apa saja yang tidak memberikan nilai tambah bagi tujuan keuanganmu? Apakah hal itu bisa dikurangi atau bahkan dialihkan untuk membeli sesuatu yang memberimu nilai tambah (misalnya: nabung saham, beli reksadana atau beli buku-buku yang akan memperluas wawasanmu) ?

Selamat mencoba!

PS: Kalau anak sultan, gak perlu nyoba cara gini sih ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s