Stres yang akan Anda Hadapi Ketika Berinvestasi

Photo by Oladimeji Ajegbile on Pexels.com

Mungkin Anda sudah tahu bahwa sekedar menabung adalah ide yang buruk karena secara tidak sadar uang Anda akan “dirampok” oleh yang namanya “inflasi”

Jadi, Anda perlu mempertimbangkan untuk menginvestasikan uang Anda.

Setelah mempelajari cara kerja uang selama beberapa tahun, pelajaran terbesarnya adalah hal ini: psikologi Anda menentukan berapa banyak uang yang Anda investasikan akan bertumbuh.

Ketika saya mulai berinvestasi, bagian tersulit, setelah saya memahami dasar-dasarnya, adalah ketika menghadapi tekanan. Tidak ada yang memberitahu saya bahwa menginvestasikan uang akan membuat stres.

Semakin banyak uang yang Anda investasikan, semakin membuat Anda stres.

Ini bukan berarti berinvestasi adalah ide yang buruk, atau sesuatu yang hanya dipikirkan oleh orang-orang yang lebih pintar dari Anda atau hanya untuk orang-orang berperawakan tenang dalam mengambil keputusan.

Kuncinya disini adalah untuk mempersiapkan diri menghadapi stres yang akan Anda rasakan ketika Anda menginvestasikan uang Anda. Inilah cara untuk tetap tenang ketika Anda berinvestasi sehingga Anda tidak kehilangan banyak uang Anda.

  1. Anda berani berinvestasi, Anda juga harus berani kehilangan
Photo by Lukas on Pexels.com

Tetapkan dalam pikiran Anda ketika memutuskan berinvestasi, berarti Anda juga berani menanggung risikonya, bahkan bukan tidak mungkin Anda akan kehilangan uang Anda. Oleh karena itu, sebelum memasukkan uang Anda ke suatu instrumen investasi, Anda tentukan terlebih dahulu jumlah uang yang sanggup Anda terima risikonya jika harus kehilangan uang tersebut. Misal: ketika portofolio saham Anda tiba-tiba besok anjlok, Anda masih bisa menjalani kehidupan dengan normal.

Yang saya khawatirkan adalah ketika orang lanjut usia, cacat fisik, atau orang-orang yang tidak mendapat penghasilan tetap, lalu ingin menginvestasikan uangnya dalam jumlah besar tanpa memiliki backup plan.

Pikirkan seperti ini: Asumsikan bahwa investasi Anda akan gagal. Masih bisakah Anda menjalani hidup?

2. Jangan sering-sering membuka aplikasi portofolio investasi Anda

Photo by Burak K on Pexels.com

Sering memantau account investasi saham Anda setiap hari akan membuat Anda stres. Melihat indikator portofolio saham Anda yang kadang hijau dan merah merupakan ide yang sangat buruk. Ketika Anda sudah memutuskan untuk investasi, orientasi Anda adalah akan menyimpan saham ini untuk jangka panjang.

Pasar saat ini sangat fluktuatif sehingga jika Anda memeriksanya setiap hari, kemungkinan membuat Anda cemas dan bahkan bisa menyebabkan pengambilan keputusan yang buruk atas portofolio investasi Anda. Kok bisa? Anda mungkin akan mencoba menjadi peramal, dengan menebak-nebak arah pergerakan saham Anda.

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi, terutama selama masa resesi global yang disebabkan oleh krisis COVID-19 ini. Bahkan jika Anda dibisiki oleh orang yang menganggap dirinya ahli di bidang persahaman, Anda juga perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan.

3. Jangan sering-sering membaca berita keuangan

Photo by Elizaveta Kozorezova on Pexels.com

Melihat berita keuangan setiap hari adalah kegiatan yang biasanya dilakukan oleh spekulan. Anda memang tetap perlu mendapatkan update kejadian terbaru di belahan dunia yang berkaitan dengan bisnis dan investasi, tapi tidak perlu terlalu sering pula, apalagi jika itu merupakan berita buruk (bad news).

Anda akan lebih tenang dan kepala tetap dingin jika tidak menyaksikan atau membaca berita-berita keuangan tersebut.

4. Sediakan selalu dana darurat

Photo by Markus Spiske on Pexels.com

Meskipun tujuan Anda untuk melipat gandakan nilai uang Anda, namun Anda tetap perlu menyiapkan dana darurat di tabungan Anda, supaya jika terjadi sesuatu yang buruk, Anda tetap memiliki sejumlah uang dingin yang siap digunakan untuk mendukung kehidupan Anda berjalan normal.

Tidak perlu terlalu banyak supaya nilainya tidak terkikis oleh yang namanya inflasi. Ketenangan pikiran yang Anda dapatkan dari memiliki dana darurat jauh melebihi apa yang harus Anda relakan hilang akibat inflasi.

Idealnya, ketika Anda membuat tabungan dana darurat jika Anda masih single sejumlah 3-6 kali pengeluran rutin Anda tiap bulan, sedangkan yang sudah berkeluarga dan memiliki tanggungan adalah sejumlah 12-24 kali pengeluaran rutin bulanan Anda.

Lebih mudah untuk mulai berinvestasi dengan tingkat stres yang lebih rendah ketika Anda memiliki sejumlah dana darurat.

5. Konsultasikan dengan perencana keuangan independen

Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Apa yang menyebabkan stres berkelanjutan ketika berinvestasi adalah karena tidak mengetahui apa yang Anda lakukan.

Jika Anda tidak tahu seluk-beluk market, maka market akan menghancurkan Anda dan mengambil uang yang Anda investasikan seperti halnya di meja judi. Solusi mudah, jika Anda tidak punya waktu untuk belajar atau tidak bekerja di industri keuangan, Anda dapat menyewa penasihat keuangan.

Kebanyakan kita salah dalam memilih penasihat keuangan, ternyata yang kita datangi adalah seorang salesman sebuah perusahaan penyedia produk keuangan. Jangan sampai terkecoh, mereka juga menganggap dirinya financial adviser dan memiliki lisensi, tapi yang mereka rekomendasikan hanyalah produk-produk keuangan yang ditawarkan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Ini tentu menjadi tidak independen dalam memberikan solusi bagi Anda.

Perencana keuangan independen harusnya berlisensi dan tidak terafiliasi dengan perusahaan manapun, sehingga dia tidak menjual produk dari perusahaan manapun. Kalaupun perlu rekomendasi produk atau layanan keuangan, tentu pertimbangan akhirnya kembali lagi pada Anda.

6. Sesuaikan tingkat risiko Anda dengan kondisi psikologis Anda

Jika Anda bukan tipe risk-taker, maka bersikaplah konservatif dengan pilihan Anda.

Jika Anda cukup konservatif, Anda perlu memahami produk investasi tersebut secara mendalam, supaya tidak menyesal mengeluarkan hasil jerih payah Anda bekerja selama ini ke suatu instrumen investasi.

Mengetahui toleransi risiko Anda sendiri adalah kuncinya. Jika investasi Anda tidak cocok dengan psikologi Anda, maka Anda akan stres sepanjang waktu. Berikut adalah beberapa contoh risiko yang ada:

  • Mata uang digital (contoh bitcoin): terjadi volatilitas yang ekstrim.
  • Saham: risiko resesi dalam perekonomian dan penurunan 30% -40% bahkan bisa lebih atas nilai investasi Anda.
  • Obligasi: risiko gagal bayar pada bisnis yang Anda berikan pinjaman.
  • Obligasi Negara: risiko imbal hasil (return) yang kecil dan tidak mampu mengalahkan inflasi.
  • Emas: sedikit atau bahkan tidak ada pertumbuhan pada waktu-waktu tertentu, tetapi sering dianggap sebagai instrumen safe-haven.
  • Uang tunai di bank: risikonya adalah uang Anda benar-benar terkikis nilainya akibat inflasi.

Ketika Anda mulai mencari tahu beberapa produk/ instrumen investasi, tidak dapat dipungkiri bahwa semuanya ada risikonya. Bahkan ketika Anda berinvestasi pada diri Anda sendiri, misalnya mengambil pendidikan lanjut, ada kemungkinan gagal atau waktu Anda terbuang sia-sia.

7. Jangan terlalu serakah

Sangat mudah bagi kita untuk meningkatkan modal investasi kita ketika semuanya kelihatan baik-baik saja, portofolio kita semuanya “hijau”.

Kemudian akan menjadi lebih serakah dengan investasi kita, mempertimbangkan mengambil investasi lainnya yang lebih berisiko. Kemudian mulai mencari keuntungan yang lebih besar yang biasanya diikuti oleh potensi kerugian yang lebih besar pula.

Setiap kali meningkatkan toleransi risiko Anda, stres Anda akan meningkat.

Kuncinya adalah dengan membuatnya se-simple mungkin. Mulai dengan pelan, kombinasikan dengan kesabaran dan ketahui apa yang Anda lakukan, ini akan membantu Anda meraih tujuan investasi yang Anda inginkan daripada sekadar memperlakukan market layaknya kasino, tempat mempertaruhan uang Anda.

8. Take profit

Ketika investasi Anda mulai membuahkan hasil, Anda dapat mengambil sebagian keuntungan investasi tersebut dan di investasikan kembali ke produk investasi yang tingkat risikonya lebih rendah. Setidaknya Anda telah mengamankan porsi keuntungan investasi Anda dan menghindarkan Anda dari stress akibat market yang berfluktuasi kembali. Anda juga belajar untuk tidak menjadi serakah dengan mengambil sebagian keuntungan investasi Anda.

9. Resesi adalah ujian paling berat dalam mengelola stres Anda

Selama kondisi ekonomi baik-baik saja, orang-orang lebih mudah menghasilkan uang, sehingga lebih mudah pula untuk mengelola tingkat stres mereka. Banyak orang gagal mengelola keuangannya ketika dihadapkan pada kondisi resesi dan stres pun melanda.

Inti dari resesi adalah meng-eliminasi semua bisnis yang buruk dan investor yang terlalu serakah dengan mengambil banyak risiko. Ibaratnya resesi seperti layaknya proses detoksifikasi ekonomi.

Saat ini, di masa-masa resesi global akibat COVID-19 merupakan waktu yang tepat bagi Anda untuk belajar mengelola portofolio Anda dengan menyesuaikan pada kondisi psikologis Anda. Bahkan, kadang harus menerima kenyataan portofolio Anda minus hingga 40% misalnya dan Anda masih dapat bertahan dengan baik, tingkat stres Anda juga terjaga.

Menguji tingkat stres Anda selama masa resesi adalah indikator yang baik untuk mengukur toleransi risiko Anda atau perlunya penyesuaian lebih lanjut untuk strategi investasi Anda yang mungkin bermanfaat bagi kesehatan mental Anda di waktu mendatang.

Cara Tetap Tenang Saat Berinvestasi:

  • Fokus pada strategi investasi jangka panjang.
  • Buatlah diversifikasi portofolio investasi Anda
  • Minta saran ke penasihat keuangan indepeden yang tidak ter-afiliasi dengan produk-produk keuangan manapun dan memiliki sertifikasi di bidangnya.
  • Jangan terlalu muluk-muluk dan serakah.
  • Tenangkan pikiran Anda dengan berfokus pada bagaimana Anda dapat menggunakan uang yang Anda hasilkan untuk membantu orang lain dan memberikan makna bagi hidup Anda daripada hanya sekedar memantau angka-angka pergerakan harga saham atau forex di laptop Anda.
  • Pelan tapi pasti
  • Jangan terlalu percaya diri dalam berinvestasi, tetaplah terbuka akan pengetahuan-pengetahuan baru.
  • Persiapkan pola pikir Anda agar siap menghadapi resesi ekonomi.
Photo by CNBC.com

 John D Rockefeller pernah berkata:

there is no point having a tonne of money if all you do is stress about it all the time and don’t have time for you, and hopefully, others, to enjoy it.

Psikologi Anda menentukan apakah uang yang Anda investasikan akan berkembang atau tidak, bukan ditentukan oleh market.

Reference: Tim Denning on Medium.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s