The Starbucks Experience: Dari Seattle ke Portland dan Seluruh Dunia

Source: Pinterest.com

Pada tahun 1971, kedai Kopi, Teh, dan Rempah Starbucks memulai bisnis di Seattle, Washington. Sebelum kedai pertama Starbucks tersebut dibuka, orang-orang singgah ke kedai kopi di pojokan jalan untuk membeli kopi seharga 50 sen per cangkir dengan iming-iming isi ulang gratis. Bagi sebagian orang, pagi hari tidaklah lengkap tanpa mengunjungi kedai yang biasa, dimana kita menuang sendiri kopi pekat kita ke dalam cangkir. Untuk menghilangkan rasa pahitnya, kita menaburkan sedikit krim dan gula, lalu mengaduknya dengan sebuah sedotan plastik tipis berwarna merah. Kita akan memberikan uang kembalian kepada kasir yang bekerja sekedarnya untuk mendapatkan upah minimum. Ini adalah transaksi dan ritual pelanggan yang membosankan dan tidak menginspirasikan apa pun.

Terlepas dari kemonotonan dan kualitas buruk pada transaksi ini, sebagian besar orang tidak tahu bahwa ada cara lain untuk “menikmati” kopi. Saat kita sedang menjalani hari-hari yang berat dengan kopi rumahan yang kering, gosong, dan tidak enak, Howard Schultz, mantan CEO Starbucks yang sekarang menjadi direktur Starbucks, melontarkan sebuah pertanyaan menarik: “Apa yang terjadi seandainya biji kopi Starbucks yang berkualitas dipadukan dengan keindahan dan keromantisan kedai-kedai kopi Eropa? Jawabannya: Starbucks bisa mengubah ‘pengalaman minum kopi’ di Amerika dari biasa menjadi luar biasa. Tentu saja, ide itu belum jelas meski Howard Schultz melihat potensi yang besar dari visinya. Howard membeberkan visinya tersebut dalam rapat pemegang saham Starbucks, yang sampai tahun 1980, “impian besar kami adalah membuka sebuah kedai di Portland, Oregon.” Dengan lebih dari 11.000 kedai di seluruh dunia pada saat buku ini ditulis, perusahaan tersebut benar-benar telah melampaui cita-cita awalnya.

Photo by Suzy Hazelwood on Pexels.com

Menurut banyak orang, konsep Howard adalah ide yang ambisius. Bagaimana cara Anda mengubah pandangan masyarakat terhadap kopi? Lagi pula, kopi telah menemani kita selama berabad-abad, dan agaknya kemungkinannya kecil untuk dapat membuat perubahan besar dalam selera pelanggan.

Bagaimana cara Anda mengilhami seorang penggemar kopi untuk mengorbankan rutinitas kesehariannya sekaligus membuatnya bersedia untuk membayar enam atau delapan kali lebih mahal demi racikan kopi yang eksotis dan kaya rasa bila selama ini dia hanya tahu kopi yang “biasa”? Selain itu, siapa yang mau meluangkan waktu untuk merasakan pengalaman berada di kedai kopi bergaya Eropa kalau bisa menikmati kopi sambil membeli susu, bensin, dan koran?

Dulu, orang-orang yang mengkritik visi Schultz berpendapat bahwa dia telah melakukan sebuah trik yang tak akan berumur panjang. Pihak lain tidak bisa memahami apa enaknya minum kopi di Starbucks. Seperti yang ditulis Cora Daniels dalam sebuah artikel majalah Fortune, “Kisah Starbucks melambangkan ungkapan ‘coba bayangkan!’ dalam segala hal. Ketika Starbucks go public… perusahaan itu hanya memiliki 165 kedai yang seluruhnya terdapat di Seattle dan negara-negara bagian sekitarnya.. Orang-orang skeptis mencemooh gagasan secangkir kopi seharga 3 dolar sebagai korban mode semata.”

Bisakah “ide gila” Howard Schultz menjadi kenyataan? Yang jelas, dia telah berada di jalur yang benar, karena banyak orang yang telah menerima konsepnya untuk menyediakan kopi yang nikmat dalam sebuah lingkungan yang santai dan nyaman. Bahkan, saat ini Starbucks telah membuka kedai di lebih dari 37 negara, rata-rata lebih dari 35 juta konsumen berkunjung setiap minggunya, dan memiliki pelanggan setia yang rajin berkunjung hingga 18 kali setiap bulannya. Bertolak belakang dengan ramalan negatif para analis industri, Starbucks telah meraih kesuksesan yang cukup besar untuk dirinya sendiri.

Seberapa besarkah tepatnya kesuksesan Starbucks? Jika Anda menginvestasikan 10.000 dolar untuk IPO Starbucks di Nasdaq pada tahun 1992, investasi Anda akan berkembang kira-kira menjadi 650.000 dolar saat ini. Secara substansial, saham Starbucks telah berkembang lebih cepat dari kebanyakan saham S & P. Untuk memahami profitabilitas yang telah diraih Starbucks, seseorang hanya perlu mengetahui bahwa sejak 1992, nilai S&P naik 200 persen, Dow 230 persen, Nasdaq 280 persen, tetapi Starbucks? 5.000 persen! Selama periode ini, Starbucks berhasil mempertahankan kualitasnya sambil terus berekspansi secara agresif. Sekarang ini, Starbucks membuka lima kedai baru setiap harinya, 365 hari per tahunnya.

Starbucks lebih dari sekedar kisah Cinderella di Wall Street. Kehebatan budaya, merek, dan produknya terus memenangkan penghargaan yang gemilang. Perusahaan ini diakui secara konsisten oleh Fortune sebagai salah satu perusahaan Amerika yang “paling dikagumi” dan yang terbaik. Business Week menilai Starbucks sebagai salah satu merek terbaik dunia. Business Ethic memasukkannya dalam daftar perusahaan yang paling peduli terhadap masalah sosial setiap tahunnya.

Photo by Adrianna Calvo on Pexels.com

Bermula dari kedai pertamanya, merek Starbucks telah menjelma menjadi sebuah nama tanpa tandingan yang hampir menjadi sinonim dari kata kopi. Starbucks telah memperkenalkan istilah-istilah seperti barista, chai, venti, dan Frappccino® blended beverage ke dalam kosakata kita sehari-hari. Akan tetapi, tanda-tanda yang paling signifikan bahwa Starbucks telah mengubah kehidupan kita, dan tidak hanya pandangan orang terhadap kopi, adalah kenyataan bahwa kedai-kedainya telah memengaruhi lingkungan sekitar dan masyarakat kita. Dengan begitu banyaknya jumlah kedai Starbucks, seolah-olah pasti ada sebuah kedai dalam jarak 8 km dari rumah atau kantor Anda, dan bahkan sepertinya Anda menganggap kedai itu sebagai “Starbucks-ku”. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang pelanggan setia, Tiffany Tolmen, “Saya tahu sekali di mana saja lokasi kedai Starbucks di kota saya, dan saya selalu menggunakan kedai Starbucks sebagai acuan dalam memberikan petunjuk arah pada teman-teman. ” Starbucks tidak hanya mengubah bisnis tapi juga budaya Amerika, dan Starbucks telah memengaruhi budaya seluruh dunia.

Reference: The Starbucks Experience by Joseph A. Michelli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s