Bagaimana Orang-Orang Menjadi Kaya? Berikut Ini 2 Studi Kasusnya

Bagaimana orang menjadi kaya? Saya tertarik dengan pertanyaan itu karena kita dapat belajar dari kesuksesan orang lain. Jika Anda mencari tau lebih lanjut tentang pertanyaan itu, Anda secara otomatis akan teringat tentang bagaimana orang-orang seperti Jeff Bezos dan Bill Gates menjadi kaya.

Tetapi saya lebih tertarik untuk belajar dari orang-orang yang tidak diliput oleh media. Orang kaya yang tinggal di sekitar Anda – bukan miliarder yang tinggal di Park Avenue. Mengapa? Karena jika ada orang dari kota Anda yang bisa kaya, Anda pasti juga bisa.

Saya kenal dua orang kaya ini. Saya melihat mereka sebagai teman dan mentor. Dalam artikel ini, saya akan membagikan kisah mereka, karena mereka telah menceritakannya kepada saya. Saya hanya mengubah nama mereka untuk melindungi privasi mereka, tetapi kisah selanjutnya berisi perjalanan hidup mereka untuk menjadi kaya.

Tujuan artikel ini, saya fokus pada memperoleh kekayaan secara materi. Jelas, menjadi kaya tidak ada hubungannya dengan menjadi bahagia. Kita bisa memiliki kehidupan yang baik tanpa perlu menjadi kaya terlebih dahulu. Tetapi jika Anda tertarik untuk belajar dari orang-orang kaya, baca artikel ini sampai habis.

Studi kasus 1: Penikmat kehidupan

Picture by: Freepik.com

John berusia sekitar enam puluhan, memiliki 3 anak yang sudah dewasa, dan dua cucu. Dia bercerai dan tinggal sendirian dengan anjingnya. Dia juga punya girlfriend yang biasanya dia kunjungi beberapa kali seminggu. Dia memiliki portofolio real estat kecil (beberapa rumah tinggal yang disewakan) dan dia menghabiskan beberapa jam sebulan mengelola propertinya. Dia telah mengalihkan sebagian besar pekerjaannya dalam mengelola propertinya ke orang-orang kepercayaannya, tetapi dia tetap menyempatkan untuk berhubungan dengan penyewa propertinya. Jadi dia mengunjungi mereka setahun sekali.

Begitulah ketika saya bertemu dengan John. Dia dulu tuan tanah saya. Saya rasa dia pria yang baik dan saya percaya bisa belajar beberapa hal darinya. Hidupnya cukup baik. Di usianya saat ini tidak harus terus-menerus bekerja. “Tapi hidupku tidak selalu seperti ini,” katanya ketika saya bertanya kepadanya tentang bagaimana dia memulai. Ayahnya bekerja dengan baik, tetapi dia tidak kaya. Sementara bagi John, dia memiliki keuntungan, dia tidak dilahirkan dalam keluarga yang kaya.

Dia kuliah seperti remaja pada umumnya dan setelah itu, dia memiliki beberapa pekerjaan sampai dia tahu dia perlu memulai bisnisnya sendiri. Pada saat itu, dia sudah menikah dan punya anak. Tapi itu tidak menghentikannya. Dia memulai perusahaan pelatihan & pengembangan. Dia mendirikan bisnisnya dan memberikan seminar di hampir setiap bidang: Kepemimpinan, komunikasi, penjualan, kerja tim, dan lain-lain. Kemudian, dia me-rekrut trainer untuk mengerjakan itu.

Dia menghabiskan hampir 20 tahun membangun perusahaan. “Saya selalu bekerja. Dan saya selalu menikmatinya. Tetapi saya melewatkan sebagian besar masa kecil anak-anak saya. ” Tapi tetap saja, dia tidak menyesali keputusannya untuk bekerja keras. Dia melihatnya sebagai harga yang harus dia bayar untuk menjadi kaya. Dia membangun bisnis dan menciptakan pekerjaan.

Anak-anaknya baik-baik saja, mereka kuliah, dua di antaranya memiliki pekerjaan yang baik, dan satu memiliki bisnis yang sukses. Kehidupan anak-anak dan cucunya cukup baik saat ini. Tapi ketika tumbuh dewasa, anak-anaknya tidak suka ayahnya tidak bersama mereka.

“Selama hampir 20 tahun, saya mencurahkan seluruh waktu dan tenaga bagi perusahaan saya. Di akhir perjalanan, saya kehabisan tenaga. Saya mendapat tawaran yang bagus dan saya menjualnya. ” Saat itulah John menjadi kaya, di usia empat puluhan.

Setelah itu, ia bekerja sebagai manajer selama beberapa tahun. Dia bekerja di perusahaan yang kondisinya sedang tertekan dan dia mencoba memperbaiki kinerja perusahaan tersebut. Tapi setelah beberapa saat, dia akhirnya merasa sudah cukup. Dia tidak pernah memulai bisnis lain lagi. Selama bertahun-tahun, ia perlahan membangun portofolio real estat yang sekarang terdiri dari sekitar 20 unit.

Tetapi begitu dia menjual bisnisnya dan memperoleh lebih banyak uang, dia membeli kontrak kemitraan investasi real estat, yang masih ada sampai sekarang. Kecuali untuk kapal dan karya seni yang ia suka kumpulkan, ia sebenarnya tidak menjalani gaya hidup yang mewah dan bahkan mengendarai station-wagon yang sama selama bertahun-tahun. Saya tidak pernah bertanya berapa nilai kekayaannya, tetapi saya tahu portofolionya dan kemitraannya. Saya kira sekitar 3 juta dolar.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah:

Selama dekade terakhir, dia sangat menikmati hidupnya. Dia selalu menjadi seseorang yang menikmati hidup, tidak peduli seberapa keras dia bekerja, tetapi setelah bertahun-tahun dia merasa sudah cukup baginya. “Tidak apa-apa. Saya mendapatkan kerja keras yang adil. ”

  • Dia menyadari dia tidak bisa menjadi kaya dengan bekerja untuk orang lain
  • Dia memulai bisnisnya sendiri
  • Dia membangun perusahaannya selama hampir 20 tahun
  • Dia menjual perusahaannya ketika sudah bisa running dan menghasilkan keuntungan yang solid
  • Dia menginvestasikan uang yang dia hasilkan dari bisnisnya ke kemitraan real estat
  • Dia menikmati hidupnya sekarang dan menghabiskan waktu bersama keluarganya

Kisah John ini tidak unik. Jika Anda melihat kebanyakan orang kaya memulai dengan hal-hal yang kecil, mereka memiliki kisah yang menyerupai ini. Pertanyaan yang harus Anda tanyakan pada diri sendiri: apakah Anda ingin menjadi kaya dan bersediakah bayar harganya?

Studi kasus 2: Seseorang yang sangat kompetitif

Picture by Freepik.com

Brian (usianya di penghujung lima puluhan) adalah salah satu pengusaha paling sukses yang saya tahu. Dia memiliki perusahaan manufaktur internasional dengan lebih dari seribu karyawan. Saya kira Brian memiliki nilai kekayaan 50 juta dolar – jika tidak lebih. Dia memiliki rumah besar, mobil mewah, rumah di luar negeri, dan banyak investasi dalam bisnis dan real estat lainnya.

Kehidupan pribadinya kurang indah. Dia kehilangan istrinya di usia awal empat puluhan dan orang-orang terdekatnya mengatakan itu sangat berdampak padanya. Butuh sekitar 18 tahun baginya untuk menikah lagi. Sejujurnya, saya tidak tahu banyak tentang kehidupan pribadinya. Kami bertemu dalam sebuah bisnis dan dia hampir tidak pernah berbicara tentang hal-hal pribadi.

Saya juga kenal beberapa temannya. Saya tahu Brian menyukai film dan mobil. Dia tidak suka hal-hal seperti berolahraga, bepergian, membaca, ataupun hobi-hobi lainnya. Dia memang sering bermain golf, tapi itu sepertinya memang gaya hidupnya orang-orang kaya.

Brian adalah anak tunggal. Setelah memiliki karir yang sukses sebagai seorang insinyur, ia memulai perusahaan manufakturingnya sendiri ketika ia berusia akhir tiga puluhan. Dia sangat kompetitif dan agresif dalam bisnis.

Dia mengembangkan perusahaannya dari 0 menjadi 10 juta US Dollars dalam waktu sekitar lima tahun. Itu tidak sering terjadi. Tidak heran, dia pekerja keras, dia bekerja 365 hari setahun. Teman-temannya mengatakan itu yang dia lakukan. Dia memiliki kantor di seluruh dunia. Dan selama lima tahun terakhir, ia telah mengambil alih beberapa perusahaan di industrinya.

“Saya suka bisnis,” itulah yang dia jawab tentang mengapa dia melakukan ini semua. Dia hanya melakukan sesuatu dan tidak berhenti. Tapi itu tidak sepenuhnya dari modalnya sendiri. Dia memiliki mentor dan mitra yang sukses yang berinvestasi dalam bisnisnya ketika dia memulai. Mereka masih menjadi mitra hari ini. Tanpa dukungan itu, dia tidak akan seagresif ini.

Dia juga seorang pria yang konfrontatif. Saya pernah menyaksikan konflik antara dia dan pemain besar lainnya di industrinya. Tentang kompetitornya, yang telah ada sejak beberapa dekade, dan jauh lebih besar daripada perusahaannya saat itu, kemudian dia berkata, “Saya tidak peduli siapa mereka. Saya tidak akan berhenti sampai saya menang. “

Pelajaran yang bisa dipetik adalah:

Saya tidak mengenal Brian sama seperti saya mengenal John. Orang yang kompetitif tidak mudah terbuka. Mereka hanya melakukan satu hal: Bermain untuk menang. Hanya itu yang membuat mereka tertarik. Dan dalam kasus Brian, ia sangat pandai dalam hal itu.

  • Dia bekerja hampir sepanjang waktu
  • Dia memiliki seorang mentor dan pendukung dalam setiap keputusan bisnisnya
  • Cara utamanya untuk membangun kekayaan adalah membeli dan berinvestasi dalam bisnis
  • Dia sangat tertutup
  • Dia tidak pernah berhenti menciptakan kekayaan
  • Untuk menjadi benar-benar kaya, Anda harus kompetitif

Selain itu, ada banyak lagi kisah Brian. Misalnya, dia juga memberi banyak untuk amal. Saya tidak tahu berapa banyak karena saya belum pernah mendengar dia membicarakannya, saya mendengar ini dari orang lain. Yang saya tahu adalah bahwa sebagian besar karyawannya bekerja untuknya selama bertahun-tahun. Dia memperlakukan mereka dengan baik.

Tetapi yang paling mengejutkan bagi saya adalah menjadi sangat kaya membutuhkan sesuatu yang berbeda. Anda perlu melakukan hal-hal yang sangat sedikit dilakukan orang lain. Seperti yang Anda lihat, Brian juga bersedia membayar harga yang lebih besar daripada John. Tetapi imbalan uangnya juga lebih besar. Tapi saya tidak berpikir itu yang mendorong Brian. Dia hanya ingin menang.

Carilah dan Anda akan temukan

Menjadi kaya bukanlah suatu permainan angka. Tidak ada formula untuk menjadi kaya. Jika itu benar, semua ahli matematika di dunia akan kaya. Menjadi kaya membutuhkan sesuatu yang istimewa. Ini lebih dari sekedar seni ataupun sains. Jika seseorang pernah memberi Anda “blueprint untuk menghasilkan uang” tanyakan pada diri sendiri: Jika blueprint ini begitu baik, mengapa orang ini tidak menggunakannya sendiri? Itu sebabnya Anda juga tidak menemukannya.

Jika Anda ingin kaya, Anda harus mencarinya. Jika Anda melihat lebih dekat, Anda akan menemukan ide itu di mana-mana: Carilah dan Anda akan menemukannya. Henry David Thoreau mengatakan ini:

“Success usually comes to those who are too busy to be looking for it.”

Anda hanya perlu terus-menerus melakukannya dan menemukan satu cara yang berhasil.

Article by: Darius Foroux on Medium.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s